
PURWOREJO, jendela.com – Tak semua jalan pengabdian berawal dari ambisi. Sebagian justru lahir dari peristiwa yang tak pernah diminta, namun diterima dengan keikhlasan. Itulah yang kini dijalani Hj Nani Astuti, S.Pd, saat resmi dilantik sebagai anggota DPRD Kabupaten Purworejo melalui mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW).
Ia dilantik akhir tahun lalu di gedung DPRD Purworejo, menggantikan almarhum suaminya, H. Fran Suharmaji, anggota DPRD dari Fraksi PKB yang wafat saat masih menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.
Di balik prosesi pelantikan yang dipimpin Ketua DPRD Purworejo Tunaryo dan disaksikan Wakil Bupati Dion Agasi Setiabudi serta jajaran Forkopimda, tersimpan kisah tentang seorang perempuan yang melangkah ke dunia politik bukan karena rencana, melainkan karena amanah.
“Saya tidak pernah bercita-cita menjadi anggota dewan. Ini mungkin anugerah dan amanah yang harus saya jalankan,” tutur Hj Nani, saat ditemui di kediamannya, Sabtu (3/12).
Ia mengakui, dunia kedewanan adalah hal baru baginya. Tak ada bekal diskusi politik yang panjang dengan sang suami semasa hidup. “Bapak tidak pernah ngobrol soal partai atau kedewanan. Saya hanya kadang mendengar beliau berbicara dengan kolega-koleganya. Jadi saya benar-benar belajar dari nol,” ujarnya.
Dirinya memilih memulai langkahnya dengan sederhana, belajar, bertanya, dan menyesuaikan diri. “Kita lihat dulu program apa yang harus dijalankan, nanti kita pelajari dan tanyakan apa yang bisa saya tindaklanjuti,” katanya.
Perjalanan hidup Nani Astuti sesungguhnya telah lama ditempa disiplin dan kerja keras. Ia lahir dan besar di Winong Kidul, Kecamatan Gebang, dari keluarga pendidik. Ayahnya seorang guru yang pernah menjabat Kepala PDK kecamatan, sementara ibunya ibu rumah tangga yang juga berlatar pendidikan guru. Ia anak keempat dari enam bersaudara, empat perempuan dan dua laki-laki, dengan jarak usia yang berdekatan.
Masa mudanya dihabiskan di kos milik Mbah Wongso di Kota Purworejo. Didikan keras namun penuh tanggung jawab dari bapak kos tersebut meninggalkan kesan mendalam. “Beliau sangat disiplin. Kalau ada tamu datang, pasti ditanya. Banyak yang takut ke kos, tapi justru dari situ kami belajar tanggung jawab,” kenangnya.
Didikan itu, menurutnya, menjadi salah satu kunci keberhasilan seluruh saudara kandungnya.
Nani mengawali karier sebagai guru. Saat kuliah di IKIP Muhammadiyah Purworejo, ia sempat mengajar di SMK YPP selama dua tahun, bahkan sebelum dinyatakan lulus. Di sela menunggu ujian negara, ia tak ragu mencoba peluang lain. Kesempatan itu datang dari Bank BRI.
Sejak 1990, ia mengabdikan diri di BRI. Dari teller, customer service, hingga supervisor, hampir seluruh wilayah kerja di Purworejo pernah ia jalani, unit Bayan, Ngombol, Bener, Kaligesing, Pendowo, Banyuurip, hingga Plaza. Ia bersyukur ditempatkan di Purworejo dan tak pernah pindah hingga purna tugas pada 2022 di usia 56 tahun.
Kini, pengalaman panjang itu menjadi bekal saat ia melangkah ke kursi legislatif. Secara politik, posisinya sah sebagai peraih suara kedua yang menggantikan anggota DPRD yang berhalangan tetap. Namun bagi Nani, maknanya jauh lebih dalam.
Dari ruang kelas, meja bank, hingga ruang paripurna DPRD, perjalanan Hj Nani adalah kisah tentang kesetiaan pada proses dan keberanian menerima tanggung jawab. Ia melangkah tanpa banyak janji, namun dengan tekad kuat untuk meneruskan pengabdian, bukan hanya atas nama politik, tetapi atas nama amanah dan cinta yang ditinggalkan.
“Target saya sederhana, melaksanakan amanah sesuai dengan tugas saya,” ucapnya. (Nia)


















