Teater Maheswari Juara Festival Teater Pelajar Purworejo 2026, Seni Panggung Sekolah Kembali Bergeliat

FESTIVAL TEATER : Festival Teater Pelajar Tahun 2026 tingkat Kabupaten Purworejo yang digelar Komite Teater Dewan Kesenian Purworejo (DKP) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Purworejo, Kamis (11/6).
FESTIVAL TEATER : Festival Teater Pelajar Tahun 2026 tingkat Kabupaten Purworejo yang digelar Komite Teater Dewan Kesenian Purworejo (DKP) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Purworejo, Kamis (11/6).


PURWOREJO, jendela.com – Semangat berkesenian di kalangan pelajar Purworejo kembali menyala. Setelah sempat mengalami masa surut dalam beberapa tahun terakhir, kelompok-kelompok teater sekolah menunjukkan kebangkitannya melalui Festival Teater Pelajar Tahun 2026 tingkat Kabupaten Purworejo yang digelar Komite Teater Dewan Kesenian Purworejo (DKP) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Purworejo.

Bertempat di Gedung Kesenian WR Soepratman Purworejo, enam kelompok teater dari jenjang SMA dan SMK tampil bergantian membawakan lakon pilihan karya seniman dan sastrawan Purworejo. Mereka tidak hanya bersaing memperebutkan gelar juara, tetapi juga menunjukkan kemampuan akting, artistik panggung, hingga penghayatan karakter yang memukau penonton.

Dari hasil penilaian dewan juri, Teater Maheswari dari SMK Negeri 3 Purworejo berhasil keluar sebagai Penyaji Terbaik I sekaligus meraih penghargaan Artistik Terbaik. Posisi Penyaji Terbaik II diraih Teater Raut dari SMA Negeri 2 Purworejo, sedangkan Teater Tanjung dari SMA Negeri 7 Purworejo menempati Penyaji Terbaik III.

Untuk kategori harapan, Teater Bharasa dari SMK Bhakti Putra Bangsa meraih Harapan I, disusul Teater Arunika dari SMA Negeri 10 Purworejo sebagai Harapan II, dan Teater Cakrawala dari SMA Negeri 6 Purworejo sebagai Harapan III.

Penghargaan individu juga menjadi sorotan. Shannan V.J. dari Teater Tanjung SMA Negeri 7 Purworejo dinobatkan sebagai Aktor Terbaik berkat perannya sebagai Sugro. Sementara Aktris Terbaik diraih Dina Maryana dari Teater Arunika SMA Negeri 10 Purworejo yang sukses menghidupkan karakter seorang nenek di atas panggung.

Ketua Komite Teater DKP, Makhasin, mengatakan festival tersebut digelar untuk menjawab kerinduan kelompok teater sekolah terhadap ajang kompetisi yang selama ini sangat terbatas.

“Pelaksanaannya Rabu kemarin, pengumuman pemenang sudah keluar,” katanya, Kamis (11/6).

Menurutnya, teater memiliki nilai pendidikan yang kuat karena mampu mengasah kreativitas, membangun karakter, meningkatkan kepercayaan diri, serta melatih kemampuan bekerja sama dalam tim.

“Banyak ekstrakurikuler teater di sekolah yang saat ini mati suri. Melalui festival ini kami ingin membangkitkan kembali gairah teater pelajar sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk berkreasi dan berproses,” terangnya.

Setiap peserta diberi waktu 50 menit untuk menampilkan pertunjukan, termasuk proses penataan panggung. Meski bertujuan sebagai ruang pembelajaran, festival tetap digelar secara profesional dengan menghadirkan tiga juri berpengalaman, yakni Sumanang Tirta Sudjana, Dulrokhim, dan Charis Mun’im dari Kebumen.

Festival Teater Pelajar 2026 menjadi sinyal positif kebangkitan seni pertunjukan di lingkungan sekolah. Di tengah dominasi budaya digital, panggung teater masih mampu menjadi ruang kreatif bagi generasi muda untuk mengekspresikan ide, mengasah sensitivitas sosial, serta menumbuhkan kecintaan terhadap seni dan budaya bangsa
Ketua DKP Purworejo, Agus Pramono, mengapresiasi totalitas para peserta yang tampil dalam festival tersebut. Menurutnya, kualitas pertunjukan yang ditampilkan menunjukkan bahwa potensi teater pelajar di Purworejo masih sangat besar.

“Festival ini bukan sekadar mencari siapa yang terbaik. Yang lebih penting adalah memberikan ruang berekspresi, belajar berproses, dan membangun kebersamaan antar-pelajar melalui seni,” ujarnya.

Agus menambahkan, teater merupakan seni kolektif yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan, mulai dari kerja sama, empati, kedisiplinan, hingga keberanian menyampaikan gagasan di depan publik.

“Anak-anak tidak hanya menghafal naskah, tetapi juga belajar menghidupkan karakter, memahami pesan kemanusiaan, sekaligus melatih mental dan rasa percaya diri mereka,” tandasnya. (Nia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *