Lomba Dakwah dan MTQ Disabilitas di Ponpes Purworejo Pecahkan Rekor Dunia, Bahlil Hadir Serahkan Hadiah

Penyerahan plakat dari Guinnes World of Record kepada penyelenggara lomba, di komplek Ponpes An Nawawi Berjan Purworejo, Kamis (19/6) malam.
Penyerahan plakat dari Guinnes World of Record kepada penyelenggara lomba, di komplek Ponpes An Nawawi Berjan Purworejo, Kamis (19/6) malam.


PURWOREJO, jendela.com – Lantunan ayat suci Al-Qur’an dari para penyandang disabilitas menggema di kompleks Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo.

Bukan sekadar ajang perlombaan, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan Lomba Dakwah Disabilitas Tingkat Nasional tahun 2026 mencatat sejarah dengan memecahkan rekor dunia dan menjadi yang pertama diselenggarakan dalam skala nasional dengan melibatkan berbagai kategori disabilitas.

Kegiatan yang dibuka sejak Kamis (18/6) malam itu resmi ditutup oleh Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, Jumat (19/6) malam.

Dalam penutupan tersebut, Bahlil menyerahkan hadiah kepada para pemenang berupa uang pembinaan, dan beberapa hadiah tambahan lainnya.

Di hadapan ratusan peserta dan tamu undangan, Bahlil mengaku terharu menyaksikan kemampuan para peserta yang mampu menghafal dan melantunkan Al-Qur’an dengan sangat baik.

“Senang kami bisa hadir di sini untuk menutup acara MTQ saudara-saudara kami yang disabilitas tingkat nasional. Saya tadi terenyuh juga. Mereka ada yang hafal Al-Qur’an 30 juz dan itu sesuatu yang luar biasa,” kata Bahlil.

Menurutnya, para peserta telah menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih prestasi dan kedekatan dengan Allah SWT.

“Di sinilah kekuasaan dan kebesaran Ilahi. Secara fisik mereka diberikan kekurangan, tetapi secara iman, takwa, dan pengetahuan, mereka mungkin jauh lebih baik daripada kita. Bahkan khususnya saya, yang bisa melihat, membaca dan menulis, tetapi mereka lebih hebat dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an,” ujarnya.

Ajang yang digelar dalam rangka Milad ke-48 Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) tersebut diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Ketua Umum Pengurus Pusat MDI, KH M. Choirul Anam MZD, menjelaskan bahwa proses seleksi telah berlangsung selama dua bulan dengan melibatkan 301 peserta dari 26 provinsi.

Dari jumlah tersebut, peserta terbaik dari 13 provinsi berhasil melaju ke grand final yang mempertandingkan berbagai cabang lomba, mulai dari tilawah, tahfiz, tartil, murattal, qiraah untuk peserta rungu-wicara, hingga lomba dakwah.

Choirul Anam menyebut penyelenggaraan MTQ Disabilitas tahun ini menjadi tonggak sejarah baru. Jika tahun sebelumnya hanya melibatkan beberapa provinsi dan kategori tertentu, kali ini cakupan peserta jauh lebih luas dan berhasil memperoleh pengakuan tingkat dunia.

“Tahun lalu kami memperoleh Rekor MURI. Tahun ini alhamdulillah berhasil masuk Guinness World Records. Ini menjadi kebanggaan bersama karena MTQ Disabilitas seperti ini baru pertama kali diselenggarakan di dunia,” katanya.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN RI, Wihaji, yang membuka kegiatan sehari sebelumnya menegaskan bahwa ajang tersebut menjadi bukti bahwa dakwah dan prestasi keagamaan merupakan hak seluruh warga negara tanpa terkecuali.

Menurutnya, penyandang disabilitas bukan kelompok yang memiliki kekurangan, melainkan individu-individu yang memiliki kemampuan istimewa yang patut diberi ruang untuk berkembang dan berprestasi.

Sementara itu, Bupati Purworejo Yuli Hastuti menyampaikan apresiasi atas terpilihnya Kabupaten Purworejo sebagai tuan rumah kegiatan nasional yang bersejarah tersebut.

Ia menilai MTQ dan Lomba Dakwah Disabilitas tidak hanya memperkuat syiar Islam, tetapi juga menjadi pesan kuat tentang kesetaraan dan penghargaan terhadap potensi setiap manusia.

Mengusung tema “Berdakwah Membumikan Al-Qur’an, Mengangkat Derajat Kemanusiaan”, kegiatan ini menjadi bukti bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kondisi fisiknya, melainkan oleh keimanan, ketakwaan, dan amal kebaikannya.

Di Ponpes An-Nawawi Berjan, para peserta disabilitas telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berprestasi. Justru dari mereka, masyarakat belajar tentang ketekunan, semangat, dan kecintaan yang luar biasa terhadap Al-Qur’an. (Nia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *