Smart Braille UMPWR Diuji di SLB Negeri Purworejo, Permudah Siswa Tunanetra Belajar Aksara Jawa

UJI COBA : Tim peneliti Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) saat melakukan uji coba Prototipe Smart Braille Pembelajaran Aksara Jawa bagi Siswa Disabilitas di SLB Negeri Purworejo.
UJI COBA : Tim peneliti Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) saat melakukan uji coba Prototipe Smart Braille Pembelajaran Aksara Jawa bagi Siswa Disabilitas di SLB Negeri Purworejo.

PURWOREJO, jendela.com – Belajar aksara Jawa menjadi pengalaman berbeda bagi siswa tunanetra di SLB Negeri Purworejo. Mereka berkesempatan mencoba sebuah media pembelajaran berbasis teknologi yang dikembangkan untuk membantu mengenalkan aksara Jawa melalui pendekatan yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas.

Media tersebut adalah Prototipe Smart Braille Pembelajaran Aksara Jawa bagi Siswa Disabilitas di Sekolah Luar Biasa, hasil penelitian tim Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR).

Uji coba prototipe dilakukan di SLB Negeri Purworejo, Jalan WR Supratman Km 2, Cangkreplor, Purworejo, Kamis (27/8). Kegiatan tersebut menjadi salah satu tahapan pengembangan sebelum prototipe disempurnakan dan dikembangkan lebih lanjut.

Ketua tim peneliti, Dr. Yuli Widiyono, M.Pd., mengatakan uji coba dilakukan dengan melibatkan siswa tunanetra sebagai pengguna langsung. Penelitian tersebut juga melibatkan Dr. Herlina Setyowati, M.Pd., Murhadi, M.Eng., serta sejumlah mahasiswa.

“Prototipe itu mulai diuji coba secara langsung bersama siswa tunanetra di SLB Negeri Purworejo pada 27 Agustus 2026,” kata Dr Yuli, Minggu (30/8).

Menurutnya, semula terdapat lima siswa yang menjadi sasaran uji coba. Namun, dalam pelaksanaannya hanya tiga siswa yang dapat mengikuti kegiatan karena dua peserta lainnya berhalangan hadir akibat sakit.

Ketiga siswa tersebut kemudian mencoba secara langsung Smart Braille yang telah dikembangkan tim peneliti. Mereka dikenalkan dengan perangkat sekaligus diberi kesempatan menggunakannya dalam proses pembelajaran aksara Jawa.

“Ketiga siswa yang hadir mendapat kesempatan langsung untuk mengenal dan mencoba prototipe Smart Braille. Mereka berinteraksi dengan perangkat tersebut sebagai media untuk membantu proses pembelajaran aksara Jawa,” ungkapnya.

Dr Yuli menjelaskan, keterlibatan siswa secara langsung menjadi bagian penting dalam penelitian. Dari proses tersebut, tim dapat mengetahui bagaimana respons pengguna ketika berinteraksi dengan perangkat yang dikembangkan.

“Selama uji coba, kami mengamati berbagai hal, mulai dari kemudahan penggunaan alat, respons siswa, hingga bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki,” jelasnya.

Berbagai masukan dan temuan selama uji coba selanjutnya menjadi bahan evaluasi tim peneliti. Penyempurnaan diperlukan agar Smart Braille tidak hanya menjadi sebuah inovasi teknologi, tetapi benar-benar dapat digunakan dan memberikan manfaat dalam kegiatan belajar mengajar.

“Kami berharap hasil pengembangan Smart Braille nantinya tidak berhenti pada tahap prototipe. Melalui evaluasi dan penyempurnaan secara berkelanjutan, perangkat ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif media pembelajaran yang praktis, adaptif, dan ramah bagi siswa tunanetra,” ujar Dr Yuli.

Ia menambahkan, pengembangan Smart Braille merupakan bentuk kolaborasi antara pendidikan dan teknologi untuk menjawab kebutuhan pembelajaran bagi siswa penyandang disabilitas.

Selain membantu memberikan akses belajar yang lebih luas, inovasi tersebut juga memiliki nilai lain, yakni ikut mengenalkan dan melestarikan aksara Jawa di tengah perkembangan teknologi pembelajaran.

Sementara itu, Wakil Kepala SLB Negeri Purworejo Mayasari Nur Afifah, S.Pd., menyambut baik pelaksanaan uji coba tersebut. Menurutnya, kehadiran inovasi pembelajaran seperti Smart Braille menjadi hal positif bagi sekolah, khususnya dalam mendukung kebutuhan siswa tunanetra.

Pihak sekolah juga memberikan sejumlah masukan kepada tim peneliti. Masukan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan penyempurnaan sehingga perangkat yang dikembangkan semakin sesuai dengan kondisi dan kebutuhan siswa di SLB.

Bagi siswa, uji coba tersebut juga memberikan pengalaman baru. Mereka tidak hanya belajar mengenal aksara Jawa, tetapi sekaligus mencoba cara belajar dengan memanfaatkan teknologi yang dirancang sesuai kebutuhan mereka.

Salah seorang peserta, Yanuar, memberikan tanggapan positif setelah mencoba inovasi tersebut.

“Antusias dan inovasi yang bagus untuk pembelajaran yang menarik,” ujarnya.

Uji coba Smart Braille ini menjadi langkah awal untuk menghadirkan media pembelajaran aksara Jawa yang lebih inklusif. Harapannya, inovasi serupa dapat terus dikembangkan sehingga siswa tunanetra memiliki kesempatan yang semakin luas untuk mempelajari aksara Jawa dengan cara yang mudah, menarik, dan sesuai kebutuhan mereka. (Nia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *