banner 728x250

Pusaka Berusia Hampir 200 Tahun Peninggalan Bupati Pertama Purworejo Dijamas Sambut Tahun Baru Jawa

Prosesi jamasan
Prosesi jamasan
banner 120x600
banner 468x60

PURWOREJO, jendela.com – Keris dan mata tombak peninggalan Raden Adipati Arya Cokronegoro, Bupati pertama Purworejo, menjadi pusaka utama yang dijamas dalam rangkaian peringatan Tahun Baru Jawa 1960 Saka di pendapa Kabupaten Purworejo, Kamis (18/6).

banner 325x300

Pusaka yang diperkirakan berusia hampir 200 tahun tersebut dibersihkan melalui prosesi Jamasan Tosan Aji sebagai bentuk pelestarian warisan budaya sekaligus penghormatan terhadap sejarah berdirinya Kabupaten Purworejo. Pusaka tersebut adalah salah satu koleksi dari Museum Tosan Aji Purworejo.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, mengatakan bahwa pusaka peninggalan Cokronegoro menjadi salah satu koleksi bersejarah yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Purworejo.

“Yang dijamas hari ini adalah keris pusaka peninggalan Cokronegoro, Bupati pertama Purworejo, sekaligus mata tombak yang beliau miliki,” kata Yudhie.

Menurutnya, tradisi jamasan tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan membersihkan benda pusaka secara fisik, tetapi juga sebagai momentum introspeksi diri dalam menyambut tahun baru Jawa.

“Membersihkan pusaka menjadi simbol evaluasi diri. Kita melihat masa lalu untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Selain pusaka milik Cokronegoro, prosesi jamasan juga dilakukan terhadap Keris Jalak Tilam dan sejumlah koleksi Museum Tosan Aji. Saat ini museum tersebut menyimpan 1.628 koleksi tosan aji yang terdiri atas keris, tombak, pedang, hingga samurai.

Bupati Purworejo Yuli Hastuti dalam sambutannya menyampaikan bahwa Jamasan Tosan Aji merupakan tradisi yang mengandung filosofi penyucian diri, pengendalian hawa nafsu, serta upaya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan warisan budaya leluhur.

“Pusaka-pusaka yang dijamas hari ini merupakan bagian dari jejak sejarah perjalanan Kabupaten Purworejo yang harus kita rawat dan lestarikan bersama,” ujar Yuli.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan penampilan kesenian khas Purworejo, seperti Jolenan dan Tari Cingpoling, serta pagelaran Wayang Kulit Gagrak Bagelenan yang saat ini sedang diusulkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Yudhie menambahkan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda. Seluruh rangkaian acara disiarkan secara langsung melalui media digital agar dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.

“Harapannya generasi muda bisa mengenal, mencintai, dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam budaya serta pusaka peninggalan leluhur,” katanya. (Nia)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *